Membuat SIM A di Sidoarjo

Setelah pindah tinggal di Sidoarjo, aku harus memindahkan semua dokumen keluarga ke alamat Sidoarjo. Sementara sih masih memakai alamat rumah orangtua (karena beberapa alasan), belum menggunakan alamat rumahku sendiri.  Mulai dari KTP, Kartu Keluarga, BPKB dan STNK sepeda motor hingga SIM ku.



Semua dokumen tersebut aku coba untuk mengurusnya sendiri, kecuali BPKB dan STNK karena harus mutasi dari Lampung dan pengurusannya sampai ke Polda.  Dokumen itu dikerjakan oleh keponakan yang pekerjaannya memang mengurusi STNK. KTP dan Kartu Keluarga ku urus sendiri, mulai dari membuat surat keterangan RT-RW-Kelurahan, hingga ke Kecamatan, dan ternyata memang prosesnya sangat mudah, cepat dan sangat murah (hanya sumbangan administrasi aja seiklhasnya, seribu rupiah pun tidak ditolak). Yang paling lama adalah nunggu tandatangan pejabat itu semua dan nunggu selesai dokumennya di kecamatan (gak bisa sehari selesai, harus balik lagi 2-3 hari kemudian).

Mengenai SIM A -ku yang ada akan kedaluarsa tanggal 29 Maret 2011, dan dikeluarkan oleh Poltabes Lampung.  Untuk melakukan perpanjangan harus mengambil berkas dulu yang di Lampung, dan hal ini agak menyulitkan karena lokasinya jauh. Aku mendapat kabar dari beberapa teman yang sudah membuat SIM baru di Sidoarjo dan tetangga depan rumah yang seorang polisi, bahwa pembuatan SIM saat ini simple dan tidak perlu melibatkan calo, biayanya pun murah, tetapi untuk SIM baru harus mengikuti ujian baik teori maupun praktek. Kemudian di internetpun juga banyak berita mengenai kemudahan membuat SIM. Apalagi waktu aku ngurus pajak Sepeda Motor ku di Samsat pun sangat cepat dan simple, gak sampe 1 jam setelah loket buka udah selesai.  Dari hal-hal itu akupun mencoba untuk membuat SIM A yang baru, sendiri tanpa bantuan calo atau biro jasa.

Tanggal 10 Maret 2011, hari kamis aku menuju Polres Sidoarjo di Jln. Kartini, setelah mengantar Galuh ke sekolahnya. Sampai di Polres hampir jam 8 pagi. Setelah parkir mobil di luar, aku masuk ke Polres dan di pintu gerbang tanya pada polisi yg jaga.  Dengan ramah disuruhnya aku ke sebelah utara Polres untuk test kesehatan dan bayar asuransi dulu dan disiapkan fotokopi KTP 3 lembar dan map, daripada nanti setelah masuk harus balik keluar lagi. Lagian jam segitu loket belum buka.


Setelah fotocopi dan beli map di samping Polres (habis Rp. 3.000 semua dan langsung disusun oleh orang yg jaga fotokopi), langsung ke kesehatan (disitu tertulis prakter Dokter).  Bayar Rp. 15.000, test tekanan darah dan mata (lihat huruf-huruf seperti di optik/dokter mata) dan ditanya apakah punya penyakit tekanan darah tinggi. Selesai itu langsung ke sebelah untuk bayar asuransi Rp. 30.000,- dan dapat kartu asuransi kecelakaan yang berlaku selama 5 tahun.  Kemudian semua berkas tersebut dibawa ke loket pendaftaran di dalam Polres untuk mendapat nomor antri ujian teori. Nah aku harus nunggu ujian teori di belakang gedung pengurusan SIM ini.


Setelah menunggu sekitar 45 menit, peserta ujian teori SIM A dipanggil masuk, yang ikut gak sampe 10 orang, sehingga dicampur juga dengan peserta ujian SIM C. Kursinya total untuk 20 orang.  Aku menempati kursi no 7. Kulihat ke atas ada LCD proyektor, dan di bangku ada kotak dengan 4 buah tombol. Kupikir ujiannya pasti dengan elektronik tanpa kertas. Ternyata benar, LCD dinyalakan dan mulai dijelaskan tatacara ujian. Ternyata setelah satu soal dijawab dan ditutup waktunya, langsung ditampilkan jawabannya.  Soalnya ada 30 dan setiap soal diberi waktu menjawab 1 menit dan bisa dikoreksi sebelum waktu habis. Wah hebat, kalo gini enak sekali, semua transparan. Apalagi setelah selesai pada akhirnya semua hasil ujian ditampilkan juga siapa yg lulus dan siapa yg tidak lulus beserta nilainya.  Wah.. transparan sekali.

Oya.. untuk ujian teori ini sebetulnya ada di internet (kebetulan aku browsing), soalnya persis sama dan bisa kita uji coba langsung di situs itu. Disini situsnya.  Akhirnya aku mendapat nilai 67 dan lulus. Jawabanku yang salah ada 10 nomor. Aku nyesel juga gak nerusin baca yg di situs itu, tapi ya Alhamdulillah lulus. Nilai minimal untuk lulus adalah 60.


Langsung peserta yang lulus dipersilakan ke tempat ujian praktek. Nah disini juga nunggu lagi. Sekitar jam 10:00 lewat ujian praktek mobil baru dimulai. Ujiannya cuma parkir 3 posisi, yaitu parkir mundur serong, parkir mundur seri, parkir mundur pararel. Sebetulnya sih udah biasa kita lakukan, tetapi yang ini ada syaratnya, yaitu tidak boleh maju mundur, harus sekali jalan mundur. Kesalahan dua kali, tidak lulus. Lagipula tempatnya ngepas sekali. Kali ini aku tidak lulus, karena kesalahan dua kali. Untuk ngepasin aku maju mundur, sehingga dianggap tidak lulus.  Harus kembali dua minggu lagi, yaitu tanggal 24 Maret 2011.  Aku dapat kertas form yang tertulis tidak lulus dan harus kembali tanggal tersebut. Yahh aku pulang dulu. Waktu menunjukkan sekitar jam 11:00, berarti sekitar 3 jam di Samsat ini.

Tanggal 24 Maret 2011 setelah mengantar Galuh sekolah, langsung aku menuju Samsat Sidoarjo. Sampai di lokasi ternyata masih jam 8 pagi. Samsat masih belum buka. Terpaksa deh nunggu.

Ternyata setelah agak siang, sekitar jam 9an, banyak juga yang mengulang.  Kami mengisi daftar hadir di sebuah buku, dan aku mengisi di urutan nomor pertama.  Yang jelas aku kepingin sekali lulus, karena kalo tidak lulus harus mengulang 2 bulan lagi, wah lama sekali.  Kemudian kalo gak lulus lagi, ya ngulang lagi 2 bulan lagi, wah capek deh. Karena itu aku memilih nomor pertama, supaya mental masih fresh dan tidak down kalo lihat orang yang gagal, lagipula aku udah punya konsep dan tidak pengen terpengaruh dengan melihat kegagalan.

Nah sambil nunggu aku melihat-lihat daftar hadir. Setiap hari sekitar 30-40 orang yang ujian praktek SIM ini, wah banyak juga.  Tetapi bukan hanya SIM baru tetapi juga peralihan SIM A ke SIM B1, jadi banyak juga sopir-sopir truk yang ikut ujian, dan ternyata juga gak lulus. Ternyata kalo dilihat yang lulus (ada tandanya), cuma sekitar 5-7 orang setiap hari.... WAHH, cuma segitu???... ternyata gak banyak yg lulus.... pantaslah.  Kalo begini aku harus pake jurus yg lain kalo nanti gak lulus, harus ambil dokumen ke Lampung. Karena SIM A ku mati tanggal 29 Maret 2011, jadi kalo gak lulus aku gak punya SIM yang masih hidup.... bahaya juga. Aku menelpon teman yang di Lampung supaya menghubungi biro jasa yang dulu aku pake untuk ngurus SIM supaya dibantu.

Akhirnya jam 10an, petugasnya datang dan mulailah ujian ini. Setelah semua siap, peserta no satu diminta masuk ke mobil.  Masuklah aku ke mobil. Petugas yang disebelahku bukan petugas yang dulu, kayaknya petugas ini lebih enak. Akhirnya dengan menggunakan konsep yang sudah kupelajari dan dengan menjalankan mobil perlahan-lahan aku lulus ujian praktek SIM A ini. Alhamdulillah.

Turunlah aku dari mobil. Tapi kenapa aku gemeter banget. Mungkin karena tegang dan konsentrasi yang keras membuat tubuhku gemetar. Sampe-sampe nelpon istriku pun masih dengan suara yang bergetar, untuk ngabarin kalo aku lulus. Surat form yang kubawa kemarin ditandatangi LULUS oleh petugas, dan dipersilakan menuju ke bagian arsip untuk mengambil arsip dan melanjutkan administrasi.

Proses administrasi selanjutnya adalah mengisi form, klarifikasi form dan menerima bukti pembayaran peserta uji SIM, lalu ke Bank BRI di dalam Samsat ini juga untuk membayar.  Tarif untuk membuat SIM A baru adalah Rp, 120.000,-. Kalo perpanjangan adalah Rp. 80.000,-.Selesai membayar, lalu menyerahkan lagi dokumen-dokumen tersebut di ENTRY loket untuk dimasukkan data-data kita ke komputer.  Setelah selesai Entry data, kartu asuransi dan tanda bukti bayar dikembalikan ke saya lagi dan diminta tunggu untuk foto.  Tidak pake antri lama, langsung foto, tanda tangan dan cap jempol dan menunggu proses SIM selesai.

Gak sampai 15 menit SIM A udah jadi dan jam tangan di tanganku menunjukkan sekitar jam 11.45. Alhamdulillah, ternyata membuat SIM A sendiri sebetulnya tidak susah dan tidak lama, kalo bisa lulus terus secara langsung gak sampe satu hari, setengah hari aja cukup.


Biaya yang dibutuhkan untuk proses pembuatan SIM A baru adalah :
  1. Cek Kesehatan Rp. 15.000,- (dokter diluar Samsat, tapi khusus untuk test SIM)
  2. Asuransi Kecelakaan PT. Asuransi Bhakti Bhayangkara Rp. 30.000,- (oo, perusahaannya kepolisian juga ya)
  3. Fotokopi KTP dan Map Rp. 3.000,-
  4. Biaya Pembuatan SIM A Rp. 120.000,-
Total adalah Rp.168.000,-

14 komentar:

  1. Klo sim C total biaya berapa ?

    BalasHapus
  2. pembuatannya kalo gak salah 60ribu
    +asuransi sama 30ribu + kesehatan sama 15ribu + fotokopi dan map 3ribu

    BalasHapus
  3. terima kasih ya buat infonya...kebetulan mau ngurus sim c.

    BalasHapus
  4. URGENT,
    Alamat untuk bikin SIM Sidoarjo dimana ya? Saya cari di internet kok gak ada.
    Tolong SMS saya di 031-70779805.
    Terima kasih atas kesediaanya membantu saya.
    Dian

    BalasHapus
  5. @seputar wanita... trims juga

    @Dian, Samsat ada di jalan Kartini Sidoarjo. nih FB nya
    id-id.facebook.com/pages/SAMSAT-SIDOARJO/119028364781233

    BalasHapus
  6. Lho..Bapak di Sukodono ya? Melihat bentuk rumahnya, ini spt di perumahan Mutiara Residence?

    BalasHapus
  7. trimakasih catatannya...sangat membantu...

    BalasHapus
  8. wah, makasih info dan link untuk soal2nya ya pak, sangat bermanfaat. mudah2an bisa lulus...^^ http://www.shakuki.com

    BalasHapus
  9. adakah yg punya pengalaman menyedihkan tuk mengurus SIM dari suatu tempat kursus tertentu?
    Kalo dari tempat kursus, kira2 habis berapa yah?

    BalasHapus
  10. Catatannya sangat membantu.. terima kasih juga untuk situs ujian soalnya

    BalasHapus
  11. Perasaan saya di polres sidoarjo ga pernah nge"lulus"in peserta jika tanpa "salaman"

    BalasHapus
  12. Hahaha, gak usah pake perasaan Bu Dini, buktinya saya lulus tanpa "salaman" dan beberapa orang setelah saya yg juga 2-3 kali ujian terus lulus tanpa "salaman". Mungkin Bu Dini yang "suka" pake "salaman" tanpa coba dulu yg "gak pake salaman" ayo Bu Dini buktikan aja... jgn perasaan dulu yg maju...

    BalasHapus